Harlah 100 Tahun NU, Gus Hilmy: NU Harus Terus Relevan, Hadir dan Melayani

Harlah NU
Anggota DPD RI Dr H Hilmy Muhammad MA atau Gus Hilmy menyampaikan orasi kebangsaan pada peringatan Harlah 100 Tahun NU di aula PCNU Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Foto: Dok DPD RI.
0 Komentar

BANTUL, Berita86.com- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr H Hilmy Muhammad MA. menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus terus relevan agar mampu bertahan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam orasi kebangsaan pada peringatan Harlah 100 Tahun NU di aula kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Gus Hilmy, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa NU sejak awal berdiri tidak hanya mengurusi persoalan keagamaan, tetapi juga kebangsaan dan kemanusiaan.

Baca Juga:Mentan Amran Tunjukkan Kepedulian, Santuni Keluarga Prajurit Marinir yang GugurKata Menteri Agama: MBG Bikin Santri Belajar Lebih Semangat

Karena itu, eksistensi NU menuntut keberanian untuk terus bermanfaat dalam berbagai situasi sosial.

“NU sudah berusia 100 tahun. Kita tidak hanya ingin NU hidup 100 tahun lagi, tapi hidup sampai akhir zaman. Kalau NU ingin hidup, maka harus relevan. Relevan itu artinya hadir dan melayani,” kata Gus Hilmy di hadapan pengurus NU se Kabupaten Bantul pada Jumat, 30 Januari 2026.

Lebih lanjut, Gus Hilmy menekankan relevansi sebagai kunci keberlanjutan organisasi.

Relevansi itu harus hadir dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam level paling dasar, nahdliyin sebagai santri santri harus menunjukkan akhlak sebagai identitas utama.

Menunjukkan relevansi NU, Gus Hilmy menyitir lagu Lir-ilir. Menurutnya, lagu Jawa yang diciptakan Sunan Kalijaga sekitar abad ke-16 itu masih kontekstual hingga hari ini untuk menggambarkan NU 100 tahun.

“Lir-ilir, lir ilir, tandure wus sumilir. Bangunlah, bangkitlah, tanaman sudah mulai berbunga. Masyarakat sudah mau ber-NU, kader-kadernya sudah menetas. Tak ijo royo-royo, NU sudah menyebar luas. Tak sengguh penganten anyar, gairahnya seperti pengantin baru,” terang Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut.

Gus Hilmy mengingatkan agar NU tidak kehilangan peran di tengah kemajuan sumber daya kader. Ia menyinggung banyaknya kader NU yang kini berkiprah sebagai insinyur, dokter, birokrat, dan politisi. Kondisi itu harus diiringi dengan keberanian memperbaiki layanan dan tata kelola organisasi.

“Kader-kader NU berdiaspora, yang kini menempati tempat-tempat strategis menjadi sumber daya yang perlu ditata sehingga berkontribusi secara jelas, nyata, dan terorganisir,” kata Gus Hilmy.

0 Komentar