Menurutnya, keberadaan hulu Ciliwung memiliki peran vital bagi banyak wilayah, sehingga tanggung jawab menjaganya tidak bisa dibebankan hanya kepada satu daerah.
“Hulu Sungai Ciliwung ini milik kita semua. Memang berada di Kabupaten Bogor, tetapi yang harus merawat dan memeliharanya adalah seluruh masyarakat yang cinta alam, cinta lingkungan, dan cinta air. Ini kita jaga bersama-sama,” tegas Rudy.
Ia menjelaskan, Sungai Ciliwung mengalir dari kawasan Puncak di Kabupaten Bogor dan melintasi sejumlah wilayah lain hingga ke Bekasi dan DKI Jakarta.
Baca Juga:Polda Metro Jaya Amankan 105 Pelaku Tawuran dalam Operasi Pekat Jaya 2026, Mayoritas Anak di Bawah UmurPutusan KPPU: Tender Pembangunan RSUD Kabupaten Bogor Bersekongkol, Jatuhkan Denda Rp3 Miliar
Karena itu, kondisi hulu sungai sangat menentukan keberlangsungan sumber air, fungsi resapan, serta risiko bencana di wilayah hilir.
Bupati Rudy juga mengajak daerah-daerah yang terdampak aliran Sungai Ciliwung untuk ikut berkontribusi dalam menjaga kawasan hulu. Ia menyebut upaya ini sebagai bentuk “investasi air” demi masa depan bersama.
“Ayo kita berinvestasi, investasi air di Kabupaten Bogor. Kalau sumber mata air dan wilayah resapan terjaga dengan baik, kita bisa meminimalkan dampak-dampak negatif seperti banjir dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Sementara Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nur Ari Wardoyo menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bogor beserta jajaran atas inisiasi program Bogor Menanam untuk Indonesia.
Menanam pohon dan memulihkan tutupan lahan di hulu DAS Ciliwung adalah intervensi nyata berbasis ilmiah yang mampu menurunkan risiko banjir dan longsor.
Dampaknya memang tidak langsung terasa, tetapi ini adalah langkah penting yang harus dimulai sekarang. (*)
