JAKARTA, BERITA86.COM- Selasa malam, 17 Februari 2026, warga Muhammadiyah di Indonesia sudah melaksanakan Sholat Tarawih.
Artinya, warga Muhammadiyah sudah mulai sahur untuk menjalankan puasa Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Di ruang sosial media, perbedaan mengenai awal Ramadan 2026 cukup ramai.
Banyak pihak dengan argumen masing-masing, menjelaskan mengenai perbedaan awal Ramadan, bahkan juga berpotensi pada Lebaran 2026.
Pernyataan Resmi Menteri Agama
Baca Juga:30 Pantun Ramadan untuk Anak Sekolah dan Remaja 2026: Cocok untuk Status dan Caption MedsosMenyentuh Banget! 20 Ucapan Ramadan 2026 yang Cocok untuk WhatsApp dan Instagram
Sementara itu, Selasa, 17 Februari 2026, Kemenag merilis resmi pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Dikutip berita86.com, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa sidang isbat tetap menjadi mekanisme resmi pemerintah dalam menetapkan awal Ramadan 2026 atau 1447 Hijriah.
Menag menjelaskan, secara historis sidang isbat selalu menjadi rujukan bangsa Indonesia dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri.
Dalam dua tahun terakhir memang terjadi dinamika perbedaan penentuan awal Ramadan di tengah masyarakat, namun Kemenag terus mencoba untuk mempertemukan.
“Kalau kita lihat sejarah bangsa Indonesia, memang sidang isbat selalu jadi faktor penentu lebaran dan puasa. Dalam dua tahun terakhir memang ada perkembangan dan perbedaan, tetapi kita berusaha menjadi media penyatu dalam penentuan hari penting keagamaan,” ujar Menag.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan metode antara ormas Islam merupakan bagian dari khazanah fikih yang telah lama dikenal.
Muhammadiyah, misalnya, dulu menggunakan hisab sebagai penentu utama dan rukyat sebagai konfirmasi. Sementara ormas Islam lainnya menjadikan rukyat sebagai dasar utama dengan dukungan hisab.
Baca Juga:Sambut Ramadan 2026, Berikut 25 Pantun yang Bisa Digunakan untuk Konten Medsos atau Kirim ke KerabatMarhaban ya Ramadan: Ini 15 Ucapan Ramadan, Cocok untuk Medsos atau Kirim ke Keluarga dan Teman
“Kementerian Agama sebagai perwakilan pemerintah tentunya perlu konfirmasi secara langsung dengan melihat posisi hilal dan diputuskan melalui sidang isbat,” tegasnya. Tahun ini, pemantauan hilal dilakukan di 96 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah dan syar’i.
Kriteria MABIMS dan Tantangan Astronomis
Menag juga mengingatkan masyarakat tentang kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang digunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Kriteria tersebut menetapkan bahwa ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 6,4 derajat.
Menurut Menag, ketentuan ini bersifat lebih empiris karena didasarkan pada data pengamatan astronomis yang lebih akurat.
