“Indonesia tidak boleh hanya menjual bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global,” jelasnya.
Untuk mendukung program itu, Kementerian Pertanian atau Kementan menyiapkan pengembangan komoditas perkebunan di lahan-lahan tidur dengan melibatkan masyarakat serta aparat TNI, termasuk Babinsa di berbagai daerah.
Program ini mencakup pengembangan tanaman seperti kelapa, kakao, mete, kopi, dan lada dengan target pemanfaatan lahan sekitar 870 ribu hektare.
Baca Juga:Perkuat Hulu Peternakan Lewat BUMN, Mentan Amran Targetkan Harga Ayam dan Telur StabilPeternakan Jadi Kunci Kemandirian Pangan, Kementan Perkuat Hilirisasi dan Kesehatan Hewan
Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran hampir Rp10 triliun untuk penyediaan bibit serta tahap awal pengembangan.
Amran menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan menggerakkan potensi lahan yang belum dimanfaatkan sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian nasional.
Ia menambahkan, setelah tahap budi daya berjalan, pemerintah akan mendorong hilirisasi agar komoditas tersebut memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Salah satu contoh yang disorot adalah komoditas kelapa yang kini semakin diminati di pasar global, terutama untuk produk berbasis santan atau coconut milk sebagai alternatif susu.
“Jika dikelola dan diolah dengan baik, nilai tambahnya akan jauh lebih besar. Itulah yang ingin kita dorong agar sektor pertanian Indonesia kuat tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari hilirisasi,” pungkasnya, dilansir dari rilis resmi Kementan. (*)
