Penentuan Lebaran 2026 Makin Jelas, Ini Hasil Perhitungan Terbaru

Nahdlatul ulama
LF PBNU merilis data terbaru terkait posisi hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026. Foto: Istimewa.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com- Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data terbaru terkait posisi hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026.

Informasi ini menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan akhir bulan Ramadan.

Berdasarkan hasil perhitungan pada 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis, 19 Maret 2026, posisi hilal memang sudah berada di atas ufuk.

Baca Juga:Sejumlah Pendapat Kembali Mengemuka, Lebaran 2026 Sama di 20 Maret?Korlantas Buka-bukaan: Ini Tanggal Paling Padat Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026

Namun, ketinggiannya dinilai masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah, yaitu standar minimal agar hilal dapat terlihat secara observasi.

Di wilayah Indonesia, ketinggian hilal bervariasi. Posisi tertinggi tercatat di Sabang, Aceh, dengan tinggi sekitar 2 derajat lebih dan elongasi lebih dari 6 derajat.

Sementara itu, posisi terendah berada di Merauke, Papua Selatan, dengan ketinggian hilal kurang dari 1 derajat.

Untuk wilayah Jakarta, yang dijadikan salah satu titik acuan, tinggi hilal berada di kisaran 1 derajat lebih dengan durasi terlihat sekitar 10 menit setelah matahari terbenam.

Meski demikian, angka ini masih belum cukup untuk memenuhi syarat visibilitas hilal.

Perhitungan ini menggunakan metode hisab khas Nahdlatul Ulama yang dikenal dengan pendekatan falak kontemporer.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data serupa.

Baca Juga:GT Kalikangkung Jadi Sorotan Mudik 2026, Kapolri Turun Langsung Pastikan Perjalanan AmanWaspada Saat Libur Lebaran! Basarnas Ungkap Risiko Terbesar yang Sering Terjadi

BMKG mencatat bahwa konjungsi atau ijtimak terjadi pada pagi hari, sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.

Dari data BMKG, ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara sekitar 0,9 derajat hingga 3 derajat. Sedangkan elongasi berada di rentang sekitar 4,5 hingga 6 derajat.

Selain itu, umur bulan saat matahari terbenam berada di kisaran 7 hingga 10 jam, dengan lama hilal di atas ufuk hanya sekitar 5 hingga 15 menit.

Sebagaimana dilansir dari laman NU Online, dengan kondisi tersebut, baik data dari LF PBNU maupun BMKG sama-sama menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.

Artinya, peluang besar bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Jika skenario ini terjadi, maka Idul Fitri 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Meski demikian, kepastian penetapan 1 Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang akan diumumkan oleh LF PBNU serta keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama pada malam 19 Maret 2026. (*)

0 Komentar