Selisih Harga Ayam Rp8.000 Bikin Pemerintah Geram, Middleman Jadi Sorotan

Butuh pengawasan
Kenaikan harga daging ayam diduga dipicu anomali dalam rantai distribusi, terutama karena peran pedagang perantara atau middleman. Foto: Kementan.
0 Komentar

Pemerintah juga meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan pengawasan terhadap distribusi dan harga pangan di pasar.

Kepala dinas terkait di berbagai daerah diminta turun langsung ke lapangan untuk memastikan tidak ada praktik kenaikan harga yang tidak wajar.

Di tingkat konsumen, sebagian masyarakat masih menilai harga ayam berada dalam batas yang wajar, terutama karena meningkatnya permintaan selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri.

Baca Juga:Update Harga Pangan Pertengahan Ramadan 2026: Ayam Rp41 Ribu, Cabai Rp35 Ribu, Lengkap di SiniSinergi Kementan dan Kemenkop Perkuat Ekonomi Desa, Program Ayam Merah Putih Terintegrasi Koperasi

Masih dilansir dari rilis resmi Ditjen PKH Kementan, Dewi, seorang pembeli di Pasar Ciracas, mengatakan harga ayam saat ini berkisar antara Rp35.000 hingga Rp45.000 per ekor. Sebelum Ramadan, harga sempat berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp32.000 per ekor.

Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah juga menggelar intervensi pasar melalui program Gerakan Pangan Murah.

Melalui program ini, masyarakat bisa mendapatkan daging ayam beku berkualitas dengan harga maksimal Rp40.000 per kilogram.

Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan besar di sektor pangan, seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, dan PT Malindo Feedmill Tbk.

Saat ini program Gerakan Pangan Murah telah tersedia di lebih dari 1.200 outlet yang tersebar di 17 provinsi dan akan berlangsung hingga menjelang Idul Fitri. (*)

0 Komentar