Selain itu, operasi SAR juga melibatkan 60 personel TNI Angkatan Udara dari Lanud setempat, 30 personel Korps Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), serta Tim Basarnas.
Sejumlah peralatan pendukung turut disiagakan, antara lain ambulans, drone, perangkat komunikasi satelit, jaringan Starlink, serta perlengkapan pendukung lainnya.
Mayjen TNI Bangun Nawoko mengakui medan pencarian tergolong ekstrem karena didominasi perbukitan dengan akses yang sulit. Meski demikian, seluruh unsur yang terlibat telah disiapkan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Baca Juga:Polri Mulai Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di SulselBNPB Perkuat Penanganan Banjir Jakarta, Pastikan Logistik dan OMC Berjalan Optimal
Sementara itu, Polri melalui Tim Disaster Victim Identification (DVI) mulai melakukan tahap awal identifikasi terhadap korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT.
Proses ini dilakukan setelah manifes penerbangan memastikan seluruh korban berjumlah 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang.
Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol Didik Supranoto SIK MH mengatakan Polda Sulsel telah mengerahkan Tim DVI yang diperkuat Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri serta Pusat Identifikasi (Pusident) Bareskrim Polri.
Ia menjelaskan, hingga saat ini delapan keluarga korban telah menjalani pengambilan data antemortem yang meliputi data DNA, medis, dan administrasi.
Sementara dua keluarga korban lainnya masih dalam proses pengumpulan data.
Setelah seluruh data antemortem terkumpul, Tim DVI akan melanjutkan ke tahap postmortem untuk pencocokan data guna memastikan identitas korban secara akurat.
Seluruh tahapan identifikasi dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur untuk menjamin terpenuhinya hak keluarga korban. (*)
