Kemenag-MUI Ajak Umat Jaga Kerukunan, Beda Awal Ramadan Tak Boleh Jadi Sumber Perpecahan

Sidang isbat
Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin konferensi pers Sidang Isbat yang digelar di Jakarta, Selasa malam, 17 Februari 2026. Foto: Kemenag.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com- Ada perbedaan pada penetapan 1 Ramadan 2026. Ada yang sudah memulai sejak 18 Februari 2026, ada yang memulainya pada 19 Februari 2026.

Ya, jika sebelumnya PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 2026 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) punya keputusan berbeda. Yakni, pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, disampaikan dalam konferensi pers usai Sidang Isbat yang digelar di Jakarta, Selasa malam, 17 Februari 2026.

Baca Juga:Resmi: Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 2026 Tanggal 19 Februari, Beda dengan Muhammadiyah30 Pantun Ramadan untuk Anak Sekolah dan Remaja 2026: Cocok untuk Status dan Caption Medsos

Penetapan tersebut didasarkan pada hasil pemaparan data hisab dan laporan rukyat dari 96 titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Secara astronomis, ketinggian hilal di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih berada di bawah ufuk, dengan rentang antara -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°).

Sementara itu, sudut elongasi hilal berada pada kisaran 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°).

Dengan posisi tersebut, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang disepakati negara-negara anggota MABIMS.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan harapannya agar keputusan ini menjadi momentum kebersamaan umat Islam dalam menyambut bulan suci.

Nasaruddin Umar juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan apabila terdapat perbedaan dalam memulai puasa.

“Apabila umat Islam ada yang memulai puasa berbeda, tolong jaga kerukunan. Indonesia memiliki keberagaman yang indah,” jelas Nasaruddin Umar.

Baca Juga:Menyentuh Banget! 20 Ucapan Ramadan 2026 yang Cocok untuk WhatsApp dan InstagramSambut Ramadan 2026, Berikut 25 Pantun yang Bisa Digunakan untuk Konten Medsos atau Kirim ke Kerabat

“Jika ada perbedaan, mari kita terima sebagai kekayaan khazanah keberagaman Indonesia,” sambung Menag Nasaruddin Umar.

Senada dengan itu, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, menekankan pentingnya persatuan umat di tengah perbedaan yang bersifat teknis.

“Bangsa kita ini terdiri dari berbagai latar belakang, bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan itu sifatnya teknis, bisa kita pahami dan maklumi. Tetapi yang paling penting adalah keutuhan sebagai umat Islam,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan, selama tidak menyentuh persoalan akidah.

Perbedaan, sambungnya, akan menjadi harmoni yang indah dan menjadi hal penting untuk persatuan Indonesia dan stabilitas nasional.

0 Komentar