JAKARTA, Berita86.com- Pemerintah terus memperkuat fondasi fiskal nasional di tengah tekanan global, khususnya akibat kenaikan harga energi yang semakin dinamis.
Komitmen ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026.
Dalam keterangannya, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di bawah ambang batas 3 persen.
Baca Juga:Bukan Sekadar Riset! Teknologi Kampus Ini Siap Dipakai Petani, Pemerintah Sudah Pesan UnitnyaMenko Airlangga: Ekonomi Indonesia Tangguh di Tengah Gejolak Global, Investasi Serap 2,7 Juta Tenaga Kerja
Untuk mewujudkan hal tersebut, berbagai langkah efisiensi terus dilakukan di kementerian dan lembaga.
Selain menjaga stabilitas fiskal, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk meredam dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas energi lainnya.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah peningkatan produksi batu bara guna menjaga pasokan energi domestik.
Di sektor energi, pemerintah mendorong percepatan transisi dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Upaya ini dinilai lebih efisien dan berkelanjutan, terutama saat harga minyak dunia mengalami kenaikan.
Tak hanya itu, pemerintah juga mengkaji penerapan skema kerja fleksibel atau work from home (WFH) secara lebih luas.
Kebijakan ini tidak hanya ditujukan bagi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga diharapkan dapat diterapkan oleh sektor swasta dan pemerintah daerah.
Baca Juga:Peluang Besar! Dam Haji di Indonesia Disebut Bisa Dongkrak Ekonomi PeternakMensesneg: Arahan Presiden Bikin Open House Lebaran 2026 Tak Boleh Mewah, Ini Alasannya
Langkah ini diyakini mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 20 persen, seiring berkurangnya mobilitas masyarakat dalam aktivitas harian. (*)
