BRIN–BULOG Temukan Cara Simpan Pangan Lebih Lama Tanpa Pendingin, Peternak Paling Untung

Kolaborasi
Kementerian Pertanian mendukung sinergi antara BRIN dan Perum BULOG dalam menghadirkan teknologi penyimpanan pangan yang lebih efisien dan ramah energi. Foto: Kementan.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com– Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kini memasuki babak baru.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendukung sinergi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perum BULOG dalam menghadirkan teknologi penyimpanan pangan yang lebih efisien dan ramah energi.

Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan pembaruan Nota Kesepahaman antara kedua lembaga di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Baca Juga:Semua Tersenyum di Lebaran 2026: Stok Pangan Melimpah, Harga Stabil, Ini Data Mengejutkannya!Dunia Dilanda Krisis Pangan, tapi Indonesia Aman! Prabowo Ungkap Kekuatan Besar RI

Dilansir dari rilis resmi Kementan, fokus utamanya adalah penerapan inovasi teknologi yang mampu menjaga kualitas bahan pangan lebih lama dengan biaya yang lebih terjangkau.

Langkah ini membawa angin segar bagi peternak dan pelaku usaha. Produk hasil ternak, seperti telur, kini berpotensi memiliki masa simpan lebih panjang, sehingga risiko kerugian akibat penurunan kualitas dapat ditekan secara signifikan.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengembangkan teknologi penyimpanan yang tidak bergantung pada pendingin.

Dengan metode tersebut, telur dapat bertahan hingga dua bulan, sementara beras bisa disimpan hingga dua tahun dalam suhu ruang.

Teknologi ini dinilai mampu memangkas biaya operasional karena tidak membutuhkan energi tambahan seperti pada sistem pendingin konvensional.

Sementara itu, Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, menilai inovasi ini menjadi solusi strategis di tengah meningkatnya kebutuhan penyimpanan pangan nasional.

Ia menyebut BULOG membutuhkan teknologi yang mampu menjaga kualitas stok dalam jangka panjang, tidak hanya untuk beras tetapi juga komoditas lainnya.

Baca Juga:Prabowo Terima 12 Investor Raksasa AS, Buka Peluang Besar Investasi dan Lapangan Kerja di IndonesiaSinergi Kementan dan Kemenkop Perkuat Ekonomi Desa, Program Ayam Merah Putih Terintegrasi Koperasi

Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring proyeksi peningkatan cadangan pangan nasional yang diperkirakan mencapai 6 juta ton pada tahun 2026.

Dari sisi bisnis, kehadiran teknologi ini membuka peluang efisiensi biaya logistik dan penyimpanan. Produk yang tetap terjaga kualitasnya juga akan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

Bagi peternak, manfaat lainnya adalah stabilitas harga karena produk tidak mudah rusak atau terbuang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa inovasi pascapanen memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan usaha peternak sekaligus memperkuat sistem pangan nasional.

Menurutnya, teknologi penyimpanan yang lebih baik dapat mengurangi kehilangan hasil produksi, menjaga mutu, serta memberikan kepastian pasar bagi para peternak.

0 Komentar