JAKARTA, Berita86.com- Pemerintah Indonesia menyampaikan rasa duka yang begitu mendalam atas gugurnya tiga prajurit penjaga perdamaian dalam insiden serangan di Lebanon pada 29 hingga 30 Maret 2026.
Kepergian mereka bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga tercinta, tetapi juga mengguncang hati seluruh rakyat Indonesia.
Dilansir dari rilis resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, disebutkan bahwa pada 2 April 2026, prosesi penghormatan terakhir digelar di Bandara Internasional Rafic Hariri, Beirut.
Baca Juga:Di Tokyo, Presiden Prabowo Saksikan Deal Rp384 Triliun, Seskab Teddy: Dunia Makin Percaya IndonesiaGugur di Papua, Dua Prajurit Marinir Dilepas Penuh Hormat: Kisah Pengabdian yang Menggetarkan Hati
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Pasukan UNIFIL sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengorbanan mereka dalam menjaga stabilitas dunia.
Di tengah situasi yang masih mencekam, Pemerintah Indonesia terus menjalin koordinasi intensif dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna memastikan proses pemulangan jenazah berjalan lancar.
Targetnya, ketiga pahlawan bangsa tersebut dapat kembali ke Tanah Air dalam pekan pertama April 2026.
Namun, proses repatriasi tidaklah mudah. Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut menuju Jakarta memakan waktu sekitar 17 jam. Kini, situasi jauh lebih kompleks.
Ketegangan bersenjata di sejumlah wilayah, termasuk meningkatnya serangan di Lebanon Selatan, membuat setiap tahapan perjalanan menjadi penuh risiko.
Meski demikian, pemerintah menegaskan komitmen penuh untuk memastikan para prajurit gugur dapat dipulangkan dengan layak.
Proses ini bukan sekadar pemindahan jenazah, melainkan bentuk penghormatan terakhir sekaligus tanggung jawab negara kepada keluarga yang ditinggalkan.
Baca Juga:Sapi Kurban Presiden Disiapkan, Peternak Lokal Panen Untung, Stok Nasional Tembus 859 Ribu EkorFakta Mengejutkan! KPK Geledah Rumah Ono Surono di Dua Kota Sekaligus
Doa dan dukungan masyarakat Indonesia menjadi kekuatan penting dalam mengiringi kepulangan para pahlawan tersebut.
Adapun ketiga prajurit yang gugur adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur, dan Praka Farizal Rhomadhon.
Mereka wafat saat menjalankan tugas mulia sebagai penjaga perdamaian dunia.
Pengabdian mereka mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjaga ketertiban global, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi negara.
Gelombang simpati dan dukungan dari berbagai negara menjadi bukti bahwa jasa mereka diakui dunia internasional, sekaligus mengharumkan nama Indonesia di mata global. (*)
