Tahap Pertama Hilirisasi Ayam Terintegrasi, Kaltim Ikut Ambil Bagian

Groundbreaking
Groundbreaking Program Pengembangan Hilirisasi Industri Ayam Terintegrasi Tahap I di perkebunan Pandawa Afd 2, lahan PTPN III Regional V, Desa Suatang, Kecamatan Pasir Belengkong, Paser, Kaltim. Foto: Ditjen PKH Kementan.
0 Komentar

Pelaksanaan program hilirisasi ayam terintegrasi melibatkan Kementerian Pertanian, BUMN pangan, pemerintah daerah, perbankan, koperasi, UMKM, serta peternak rakyat melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO).

Program ini direncanakan berjalan di 30 provinsi dalam dua tahap dengan total pembangunan 323 unit prasarana industri peternakan.

Sebagai tahap awal, pemerintah melaksanakan groundbreaking di enam titik yang ditetapkan sebagai fase pertama pengembangan, yakni Jawa Timur (Malang), Sulawesi Selatan (Bone), Gorontalo (Gorontalo Utara), Kalimantan Timur (Paser), Nusa Tenggara Barat (Sumbawa), dan Lampung (Lampung Selatan).

Baca Juga:Dimulai dari Malang: Groundbreaking Hilirisasi Ayam di 6 Titik, Perkuat Pasokan Protein NasionalDukung MBG, Danantara Siapkan Rp20 Triliun untuk Peternak Ayam Pedaging dan Petelur

Untuk Provinsi Kalimantan Timur, pada tahun 2026 direncanakan pembangunan 14 unit fasilitas hilirisasi.

Lokasi pertama berada di Kebun Pandawa PTPN III Regional V seluas 99 hektare untuk pembangunan PS Farm Layer dan Hatchery dengan kapasitas 14 kandang masing-masing 10.000 ekor atau total 140.000 ekor, dengan target produksi DOC mencapai 10 juta ekor per tahun.

Lokasi kedua di Kecamatan Kariangau, Kota Balikpapan, akan dibangun pabrik pakan berkapasitas 120.000 ton per tahun.

Sedangkan lokasi ketiga di Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, disiapkan untuk fasilitas FS Farm Pullet dengan total populasi 480.000 ekor.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa hilirisasi ayam terintegrasi bukan sekadar pembangunan kandang, melainkan penguatan ekosistem perunggasan nasional dari hulu hingga hilir.

“Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Bapak Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” jelas Agung.

Ia menambahkan, ekosistem yang dibangun mencakup pembibitan ayam, pakan berbasis bahan baku dalam negeri, kesehatan hewan, rumah potong unggas, cold chain, pengolahan, logistik, hingga pemasaran.

Baca Juga:MENSOS TEGAS! Rumah Sakit Dilarang Tolak Pasien BPJS PBI, Reaktivasi Bisa CepatKerja Sama Indonesia-Australia: Prabowo dan Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Indo-Pasifik

Melalui ekosistem terintegrasi tersebut, pemerintah menargetkan produksi telur dan daging ayam tersebar lebih merata di berbagai daerah.

Skema ini diharapkan memperkuat kemandirian daerah, menekan gejolak harga, dan menjamin ketersediaan protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan. (*)

0 Komentar