Selisih Harga Ayam Rp8.000 Bikin Pemerintah Geram, Middleman Jadi Sorotan

Butuh pengawasan
Kenaikan harga daging ayam diduga dipicu anomali dalam rantai distribusi, terutama karena peran pedagang perantara atau middleman. Foto: Kementan.
0 Komentar

JAKARTA, Berita86.com- Pemerintah mulai turun tangan menstabilkan harga daging ayam ras setelah komoditas ini tercatat menjadi salah satu penyumbang inflasi yang cukup besar pada Februari 2026.

Kenaikan harga tersebut diduga dipicu oleh anomali dalam rantai distribusi, terutama karena peran pedagang perantara atau middleman.

Dalam rapat pengendalian inflasi yang digelar di Jakarta pada Senin, 9 Maret 2026, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyoroti adanya indikasi permainan harga di tengah rantai pasok daging ayam.

Baca Juga:Update Harga Pangan Pertengahan Ramadan 2026: Ayam Rp41 Ribu, Cabai Rp35 Ribu, Lengkap di SiniSinergi Kementan dan Kemenkop Perkuat Ekonomi Desa, Program Ayam Merah Putih Terintegrasi Koperasi

Ia meminta Badan Pangan Nasional untuk segera memetakan wilayah yang mengalami kenaikan harga sekaligus menelusuri penyebab utamanya.

Menurut Tito, harga di tingkat peternak sebenarnya tidak mengalami lonjakan signifikan.

Namun harga mulai meningkat ketika ayam masuk ke tangan pedagang perantara sebelum dijual ke masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa pihak yang membeli ayam dari peternak lalu menjualnya kembali ke pasar diduga menjadi penyebab utama lonjakan harga tersebut.

Meski begitu, pemerintah juga melihat adanya sinyal perbaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Jumlah daerah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) ayam ras mulai menurun, sementara daerah dengan tren penurunan harga justru bertambah.

Data menunjukkan saat ini terdapat 176 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga ayam ras, sementara 96 daerah lainnya justru mencatat penurunan harga.

Baca Juga:Kabar Baik! Stok Beras Nasional Melimpah, Mentan Amran: Cukup Sampai 324 HariPerkuat Hulu Peternakan Lewat BUMN, Mentan Amran Targetkan Harga Ayam dan Telur Stabil

Angka tersebut lebih baik dibandingkan beberapa pekan sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 200 daerah mengalami kenaikan harga.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang memicu anomali harga di pasar.

Ia mengungkapkan adanya selisih harga yang cukup tinggi akibat ulah perantara, bahkan mencapai sekitar Rp8.000. Padahal di tingkat produsen tidak terjadi kenaikan harga.

Menurut Amran, tindakan tegas akan dilakukan terhadap pihak yang melanggar aturan harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Di sisi pasokan, pemerintah memastikan stok daging ayam nasional masih sangat aman.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan per 5 Maret, stok ayam hingga akhir bulan diperkirakan masih surplus sekitar 591,3 ribu ton.

Jumlah tersebut berasal dari stok awal Maret sebesar 478,5 ribu ton yang ditambah produksi sekitar 475,7 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional selama Maret diperkirakan berada di angka 362,9 ribu ton.

0 Komentar