3 Prajurit Gugur, RI Desak Dunia Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian

Pernyataan sikap
Menteri Luar Negeri, Sugiono. Foto: Setkab.
0 Komentar

JAKARTA, Berita86.com- Pemerintah Indonesia menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.

Ketiganya adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga:Gugur di Lebanon, Detik-detik Pemulangan 3 Prajurit RI Penuh Risiko TerungkapGugur di Papua, Dua Prajurit Marinir Dilepas Penuh Hormat: Kisah Pengabdian yang Menggetarkan Hati

Ia berharap para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, serta keluarga diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah ini.

Pernyataan tersebut disampaikannya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu, 4 April 2026.

Selain korban jiwa, dilaporkan pula terdapat tiga prajurit lainnya yang mengalami luka-luka.

Hingga saat ini, penyebab insiden masih dalam proses penyelidikan oleh pihak UNIFIL, termasuk kaitannya dengan dua kejadian sebelumnya yang juga tengah ditelusuri.

Menanggapi insiden tersebut, Indonesia melalui Perwakilan Tetap di New York langsung mengambil langkah diplomatik dengan mendorong digelarnya rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Permintaan ini mendapat dukungan dari Prancis yang berperan sebagai penanggung jawab isu Lebanon di Dewan Keamanan.

Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan kecaman keras terhadap serangan yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian.

Pemerintah juga menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik insiden tersebut.

Baca Juga:Indonesia Berduka, Prabowo Tegas: Pengorbanan Ini Tak Akan Dilupakan!Serahkan Santunan 23 Prajurit TNI AL Korban Longsor Bandung Barat, Mensos: Dilanjutkan Program Pemberdayaan

Sugiono menekankan bahwa pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat yang berbeda, yakni menjaga stabilitas, bukan melakukan aksi tempur. Karena itu, mereka tidak dibekali kemampuan ofensif seperti pasukan perang.

Lebih lanjut, Indonesia mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait sistem keamanan bagi pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah konflik, khususnya di Lebanon.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh personel yang bertugas di misi internasional tetap terlindungi dan dapat menjalankan tugas dengan aman.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengorbanan prajurit dalam menjaga perdamaian dunia bukanlah hal yang ringan.

Di tengah duka yang mendalam, pemerintah Indonesia menunjukkan sikap tegas bahwa setiap pengorbanan harus dihargai dan tidak boleh terulang tanpa perbaikan sistem yang nyata. (*)

0 Komentar