Menurutnya, pengembangan HAT dirancang untuk membangun rantai pasok unggas secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit hingga penguatan peternak rakyat sebagai pelaku utama di tingkat hilir.
“Dengan pengembangan ini kami akan menyiapkan parent stock di Kalimantan Timur sehingga pasokan bibit tidak sepenuhnya bergantung dari luar daerah. Ini menjadi fondasi penting untuk membangun kemandirian industri perunggasan di kawasan Kalimantan,” katanya.
Putu menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat dan peternak setempat.
Baca Juga:Progres IKN 93%, Pemerintah Fokus Bangun Sistem Digital TerintegrasiMasjid Negara IKN Digunakan untuk Ibadah pada Ramadan 2026: Pusat Aktivitas Keagamaan dan Sosial
“Untuk komersial, kontribusi perusahaan hanya sebagian kecil. Yang paling penting adalah masyarakat punya nilai, peternak punya nilai, industri punya nilai. Inilah esensi hilirisasi ayam terintegrasi, bagaimana seluruh rantai usaha tumbuh bersama dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Ia optimistis dukungan lahan, infrastruktur, dan kolaborasi berbagai pihak akan mempercepat terwujudnya kawasan perunggasan modern yang mampu memenuhi kebutuhan Kalimantan Timur dan wilayah sekitarnya.
Melalui kolaborasi antara Kementan, OIKN, BUMN, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kalimantan Timur diharapkan menjadi pengungkit baru bagi pertumbuhan sektor perunggasan nasional.
Program ini tidak hanya memperkuat pasokan protein hewani bagi masyarakat dan kawasan IKN, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat peternak rakyat, serta mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan. (*)
