Jakarta, Berita86.com– Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung pengolahan sampah organik di Pasar Kramat Jati, Senin (11/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti penggunaan teknologi hidrotermal yang mampu memangkas waktu pengolahan sampah secara drastis.
Jika metode konvensional membutuhkan waktu hingga satu minggu lebih, teknologi ini hanya memerlukan sekitar dua jam untuk menyelesaikan satu proses pengolahan.
Baca Juga:Hadiri 219 Tahun KAJ, Pramono Serukan Aksi Nyata: Dari Toleransi hingga Darurat Sampah JakartaRahasia Jakarta Tembus Top 50 Kota Dunia 2030, Misi Pramono ke 3 Negara Ini Jadi Kunci
Teknologi hidrotermal bekerja dengan memanfaatkan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran.
Inovasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, khususnya di pasar tradisional yang memproduksi limbah organik dalam jumlah besar setiap hari.
“Dengan teknologi ini, pengolahan sampah jadi jauh lebih cepat, hanya sekitar dua jam per proses. Ini bukan hanya efisien, tapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi,” ujar Pramono.
Berdasarkan uji coba yang dilakukan pada April 2026, pengolahan di Pasar Kramat Jati berhasil menangani lebih dari 1,7 ton sampah organik.
Dari jumlah tersebut, dihasilkan ratusan liter pupuk cair, serta residu padat yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai media tanam atau pupuk organik.
Hasil ini menunjukkan efisiensi yang sangat signifikan, bahkan mencapai puluhan kali lebih cepat dibandingkan cara lama.
Menurut Pramono, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis inovasi di tingkat sumber mampu memberikan dampak nyata.
Baca Juga:Kunjungi Shenzhen, Pramono Siapkan Lompatan Besar MRT JakartaWarga Jakarta Diuntungkan, Pramono Siapkan Regulasi Baru untuk Air Bersih Murah dan Merata
Selain mengurangi beban ke tempat pembuangan akhir seperti TPST Bantargebang, langkah ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular di ibu kota.
Pasar Kramat Jati sendiri merupakan salah satu pasar terbesar dengan lebih dari 1.800 unit usaha.
Setiap harinya, pasar ini menghasilkan sekitar enam ton sampah, dengan mayoritas berupa sampah organik seperti sayur, buah, dan sisa makanan.
Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan, mulai dari bau tidak sedap hingga risiko kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, Pramono menegaskan bahwa pasar tradisional harus menjadi garda depan dalam pengurangan sampah kota.
Pengelolaan tidak boleh lagi hanya bergantung pada pengangkutan ke tempat pembuangan akhir, melainkan harus dimulai dari sumbernya.
