Jakarta, Berita86.com — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan nilai dolar Amerika Serikat tidak serta-merta melemahkan ekonomi masyarakat desa.
Ia menilai, desa justru memiliki ketahanan yang kuat karena bertumpu pada sektor riil, khususnya pertanian.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, sektor pertanian disebut menjadi penopang utama ekonomi nasional, baik melalui peningkatan produksi dalam negeri maupun pertumbuhan ekspor.
Baca Juga:Terima Laporan Mahasiswa, Mentan Amran Seketika Telepon dan Tindak Lanjuti Dugaan PelanggaranMentan Amran Sabet Most Popular Leader 2026, Strategi Jaga Pangan di Tengah Krisis Global Jadi Sorotan
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026), Amran menjelaskan bahwa dampak fluktuasi nilai tukar memang terasa pada beberapa komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih.
Namun secara umum, kondisi pertanian Indonesia tetap solid karena sebagian besar kebutuhan pangan dipenuhi dari dalam negeri.
Ia juga menyoroti bahwa sejumlah faktor justru membantu menjaga daya beli masyarakat desa, seperti harga pupuk yang menurun serta stabilnya harga BBM bersubsidi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kinerja sektor pertanian yang menguat sepanjang 2025.
Nilai ekspor tercatat mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun dibandingkan periode sebelumnya, sementara nilai impor justru mengalami penurunan sekitar Rp41 triliun.
Menurut Amran, hal ini menjadi bukti bahwa pertanian kini berperan sebagai bantalan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Ia menambahkan, kebutuhan dasar masyarakat Indonesia sebagian besar berasal dari desa.
Baca Juga:Mentan Amran Tantang IPB: Jangan Jual Mitos, Jual Ide! Riset Harus Jadi Bisnis NyataDi Depan Pengusaha Bugis Makassar, Amran Beberkan Peluang Triliunan dari Hilirisasi
Beras diproduksi petani, protein hewani dipasok peternak, sementara berbagai komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang berasal dari kebun rakyat. Bahkan, sektor energi juga didukung oleh komoditas sawit.
Dengan kondisi tersebut, penguatan dolar tidak langsung memicu kepanikan karena Indonesia memiliki basis pangan domestik yang kuat.
Selain itu, Indonesia juga memiliki beragam alternatif sumber pangan lokal seperti singkong, sagu, jagung, sorgum, pisang, dan aneka umbi yang dapat menggantikan komoditas impor.
Pemerintah menilai kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan krisis 1997–1998.
Pada masa itu, stok beras nasional sangat terbatas dan pemerintah terpaksa melakukan impor besar-besaran di tengah tekanan nilai tukar dan lonjakan inflasi.
Kini, cadangan beras pemerintah telah melampaui 5 juta ton, produksi nasional berada dalam kondisi surplus, dan impor beras medium praktis dihentikan. Hal ini menjadi fondasi kuat dalam menghadapi gejolak global.
