Jakarta, Berita86.com— Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menunjukkan respons cepat dan terbuka.
Hal tersebut tergambarkan saat Mentan Amran menghadiri diskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia yang digelar di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Dalam forum yang dihadiri sekitar 118 perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah tersebut, Mentan Amran langsung menindaklanjuti laporan dugaan pelanggaran di sektor pertanian yang disampaikan peserta.
Baca Juga:Resmi Jadi PNS, 1.950 Aparatur Kementan Siap Perkuat SDM Peternakan dan Ketahanan PanganMentan Amran Sabet Most Popular Leader 2026, Strategi Jaga Pangan di Tengah Krisis Global Jadi Sorotan
Dilansir dari rilis resmi Kementan, dua laporan yang langsung direspon yakni dugaan peredaran bawang merah ilegal di Sumatera Utara serta kelangkaan pupuk subsidi bagi petani bawang merah di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Atas laporan tersebut Mentan Amran langsung melakukan sambungan telepon kepada pihak terkait di daerah.
“Terima kasih mahasiswa. Inilah yang kita harapkan. Kalau ada pelanggaran, laporkan. Tidak boleh ada pembiaran. Kita berantas mafia, kita tindak tegas,” tegas Mentan Amran di hadapan peserta diskusi.
Ia bahkan langsung mencoba menghubungi aparat penegak hukum di Sumatera Utara terkait laporan bawang merah ilegal yang dinilai merugikan petani lokal.
Menurutnya, praktik ilegal seperti itu tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak harga pasar dan melemahkan kesejahteraan petani.
“Nah itu ditangkap, masukkan penjara. Kapan negeri ini bisa makmur kalau ada pembiaran? Sama dengan beternak kejahatan di republik ini,” ujarnya.
Selain itu, laporan dari mahasiswa asal NTB terkait kelangkaan pupuk subsidi juga langsung direspons cepat.
Baca Juga:Mentan Amran Tantang IPB: Jangan Jual Mitos, Jual Ide! Riset Harus Jadi Bisnis NyataTerungkap! Cerita Pedagang Kerupuk Ini Bikin Mentan Amran Langsung Beri Rp20 Juta
Mentan Amran menegaskan akan segera menelusuri distribusi pupuk di wilayah tersebut dan memastikan tidak ada penyimpangan di lapangan.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal kebijakan publik, khususnya di sektor pertanian.
Ia mengapresiasi sikap mahasiswa yang dinilai kritis namun tetap konstruktif.
“Kita butuh pengkritik yang konstruktif. Bukan fitnah, tapi kritik berbasis data. Kita buka apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memberantas praktik mafia di sektor pertanian.
“Ada koruptor, kita penjarakan. Di sektor pertanian sudah 76 tersangka. Ini bukti bahwa kita tidak main-main,” tegasnya.
