Harga Ayam Sempat Jatuh, Kini Dipatok Rp19.500 Per Kg, Pemerintah dan Peternak Sepakat

Penjelasan
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda memberikan keterangan kepada media. Foto: Kementan.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com – Pemerintah bergerak cepat merespons gejolak harga ayam hidup (livebird) yang sempat anjlok di tingkat peternak.

Kementerian Pertanian (Kementan) langsung mengambil langkah tegas untuk menahan penurunan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat.

Melalui rapat koordinasi bersama pelaku industri perunggasan, pemerintah menetapkan harga minimal ayam hidup sebesar Rp19.500 per kilogram untuk bobot di atas 1,8 kg.

Baca Juga:Kementan Kawal Proyek Farm Ayam Raksasa di Malang, Targetkan Industri Unggas Lebih KuatSinergi Kementan dan Kemenkop Perkuat Ekonomi Desa, Program Ayam Merah Putih Terintegrasi Koperasi

Angka ini menjadi batas bawah agar peternak tidak terus merugi di tengah tekanan biaya produksi.

Dilansir dari rilis resmi Kementan pada Rabu, 20 Mei 2026, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menegaskan kebijakan ini merupakan instruksi langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Fokusnya jelas, sambung Agung Suganda, menjaga keseimbangan produksi sekaligus menstabilkan harga di pasar.

Menurut Agung, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, termasuk lonjakan harga pakan dan beban logistik yang semakin tinggi.

“Harga ini adalah titik aman yang bisa menjaga usaha peternak tetap berjalan,” ujarnya.

Kesepakatan ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari asosiasi, perusahaan integrator, hingga koperasi peternak.

Mereka sepakat untuk mengawal implementasi harga agar benar-benar berlaku di lapangan.

Baca Juga:RESMI! Idul Adha 2026 Jatuh 27 Mei, Pemerintah Umumkan Hasil Sidang Isbat dan Penampakan HilalIdul Adha 2026 Makin Tenang, Stok Hewan Kurban Melimpah dan Terjamin Sehat

Dari sisi pelaku usaha, dukungan pun mengalir. Perwakilan Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Asrokh Nawawi, menilai harga tersebut sudah cukup realistis sebagai langkah awal pemulihan pasar.

Ia menjelaskan, penurunan harga sebelumnya dipicu kepanikan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Banyak peternak melakukan panen lebih cepat secara bersamaan, sehingga pasokan melonjak dan harga jatuh.

“Harga ini jadi titik balik. Kita optimistis perlahan akan naik,” katanya.

Hal senada disampaikan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR).

Organisasi ini memastikan akan mengerahkan anggotanya untuk mengawal harga di lapangan, terutama di wilayah Jawa.

Sementara itu, peternak rakyat menyambut kebijakan ini dengan harapan baru.

Meski masih di bawah harga ideal, angka Rp19.500 dinilai lebih baik dibanding kondisi sebelumnya yang sempat menyentuh Rp18.000 bahkan lebih rendah.

Ketua PERMINDO, Kusnan, berharap tren harga terus membaik hingga mendekati Hari Raya Idul Adha, dengan target bisa mencapai Rp25.000 per kilogram.

0 Komentar