Makassar, Berita86.com — Pemerintah terus menggenjot kemandirian sektor peternakan nasional dengan memperkuat industri vaksin dan obat hewan di dalam negeri.
Salah satu langkah strategis yang kini tengah dipacu adalah pembangunan fasilitas produksi modern di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, melalui kolaborasi dengan investor swasta dan mitra global.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda menyampaikan bahwa permintaan vaksin dan obat hewan di Indonesia terus meningkat seiring berkembangnya populasi ternak serta penguatan program ketahanan pangan nasional.
Baca Juga:Kementan Bangun Lab Vaksin Modern, Langkah Besar Dongkrak Ketahanan Pangan NasionalGas Hilirisasi Ayam! Kementan dan Pemkot Bandar Lampung Siap Bangun RPHU Juli 2026
Hal ini juga berkaitan dengan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintah.
Ia menegaskan, peningkatan produksi protein hewani menjadi fokus utama pemerintah, sehingga kebutuhan produk kesehatan hewan harus dapat dipenuhi secara mandiri dan berkesinambungan.
Saat ini, pemerintah melalui fasilitas Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma tengah meningkatkan kapasitas produksi vaksin dengan teknologi yang lebih modern.
Namun, produksi vaksin unggas nasional baru mampu memenuhi sekitar sepertiga dari total kebutuhan dalam negeri.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi kolaborasi dengan sektor swasta maupun mitra internasional.
“Kami membuka peluang luas untuk kerja sama, termasuk transfer teknologi, terutama untuk jenis vaksin yang masih bergantung pada impor,” ujar Agung.
Tak hanya untuk ternak seperti ayam dan sapi, potensi pasar juga meluas ke kebutuhan vaksin hewan peliharaan dan hewan olahraga.
Baca Juga:Stok Hewan Kurban Melimpah, Wamentan: Surplus 800 Ribu Ekor, Pertanda Ekonomi Makin KuatIdul Adha 1447 H, Prabowo Bagikan 1.098 Sapi Kurban: Libatkan Peternak Lokal
Permintaan terhadap vaksin untuk anjing, kucing, hingga kuda disebut mengalami lonjakan signifikan, terutama di wilayah perkotaan.
Dari pihak internasional, Chief Accountant China National Agricultural Development Group (CNADC), Zhou Yuegang, menyatakan minat kuat untuk menjalin kerja sama jangka panjang dengan Indonesia.
Ia menilai pasar peternakan Indonesia sangat menjanjikan dengan peluang pertumbuhan yang besar.
Menurutnya, kolaborasi ini berpotensi menjadi kemitraan strategis yang menguntungkan kedua negara, baik dalam pengembangan teknologi maupun peningkatan industri kesehatan hewan.
Masih dilansir dari rilis resmi Kementan, perwakilan PT Kawasan Industri Takalar (KITA), Rahman Arif, menjelaskan bahwa kawasan industri yang tengah disiapkan akan menjadi pusat industri modern terintegrasi di Indonesia Timur.
