Jakarta, Berita86.com— Polemik film Pesta Babi yang ramai diperbincangkan publik memunculkan berbagai narasi terkait proyek cetak sawah di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa sejumlah informasi yang beredar perlu diluruskan berdasarkan fakta di lapangan.
Menurut Sudaryono, proyek cetak sawah—terutama di wilayah Kalimantan Tengah dan Papua Selatan—merupakan pekerjaan besar yang tidak bisa disamakan dengan pembangunan infrastruktur biasa seperti jalan tol atau gedung.
Baca Juga:Stok Hewan Kurban Melimpah, Wamentan: Surplus 800 Ribu Ekor, Pertanda Ekonomi Makin KuatSektor Pertanian Nasional Harus Perkuat Ekosistem Haji, Wamentan: Produk RI Harus Hadir di Tanah Suci
“Bertani padi di lahan rawa basah sangat bergantung pada tata kelola air. Ini bukan proses instan, tapi membutuhkan waktu dan tahapan yang panjang,” ujar Sudaryono.
Ia menjelaskan, dalam proyek cetak sawah, kesiapan benih, pupuk, hingga pestisida memang relatif mudah dipenuhi.
Namun, tantangan terbesar justru terletak pada pengelolaan air yang memerlukan waktu bertahun-tahun agar lahan benar-benar siap ditanami secara optimal.
Sudaryono mengibaratkan cetak sawah seperti konstruksi berat. Tidak seperti jalan tol yang bisa langsung digunakan setelah selesai dibangun, lahan sawah baru membutuhkan proses adaptasi alam.
“Hari ini lahan dibuka, bukan berarti besok bisa langsung tanam dan lusa panen. Alam punya ritmenya sendiri. Butuh waktu satu hingga empat tahun sampai lahan benar-benar produktif,” jelasnya, dikutip dari pernyataan resmi Sudaryono di Facebook, Jumat, 29 Mei 2026.
Meski demikian, pemerintah tetap terbuka terhadap kritik yang berkembang di masyarakat. Sudaryono menegaskan bahwa setiap program cetak sawah selalu disertai dengan dukungan konkret kepada masyarakat setempat.
Mulai dari pemberian insentif, pelatihan intensif, bantuan alat dan mesin pertanian modern, hingga penyediaan benih unggulan telah menjadi bagian dari program tersebut.
Baca Juga:Ledakan Kebutuhan Vaksin Hewan: Kementan Gandeng Investor Bangun Pabrik Modern di SulselPolri Selidiki Dugaan Jual Beli Titik MBG, Masyarakat Diminta Segera Lapor
Sebagai contoh, ia menyebut wilayah Kurik, Merauke, yang kini menunjukkan hasil nyata dari program tersebut.
“Dulu kawasan rawa yang tidak terkelola, sekarang sudah bisa panen hingga tiga kali dalam setahun. Kesejahteraan masyarakat meningkat, meskipun memang tidak terjadi secara instan,” ungkapnya.
Sudaryono menegaskan, pembangunan sektor pertanian memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Namun, dengan pengelolaan yang tepat, hasilnya terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. (*)
