Jakarta, Berita86.com- Polri mengajak masyarakat untuk aktif mengawasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul munculnya dugaan praktik ilegal jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lapangan.
Melalui Satgas MBG dan jajaran kewilayahan, Polri memperkuat respons terhadap setiap laporan penyimpangan yang berpotensi merugikan masyarakat sekaligus mengganggu tujuan utama program pemerintah tersebut.
Partisipasi publik dinilai menjadi kunci penting dalam mempercepat penanganan kasus, mencegah bertambahnya korban, serta memastikan program MBG berjalan transparan dan tepat sasaran.
Baca Juga:Penipuan Berkedok Program MBG Diusut: Kerugian Miliaran Rupiah, Pelaku Diburu PolisiPemerintah Gerak: Harga Telur Anjlok, Kementan Minta Naik ke Rp26.500, Dapur MBG Wajib Serap Peternak
“Kami mengharapkan kepada seluruh masyarakat, apabila menemukan adanya pelanggaran atau penyimpangan, khususnya terkait dugaan jual beli titik, agar segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum setempat, baik di Polres maupun Polda,” ujar Kasatgas MBG Polri Irjen Pol Nurworo Danang di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).
Polri menegaskan akan menindak tegas setiap bentuk penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG.
Langkah ini dilakukan guna menjaga integritas program sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap maraknya laporan dari berbagai daerah terkait praktik penipuan yang mengatasnamakan program tersebut, khususnya dalam proses pengajuan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menyebut para pelaku kerap mengaku sebagai pejabat atau orang dekat pejabat BGN.
Dengan modus itu, mereka menawarkan bantuan untuk meloloskan pengajuan SPPG, namun meminta sejumlah uang kepada korban.
“Laporan yang masuk cukup banyak. Korban dijanjikan bisa mendapatkan titik SPPG, tetapi harus menyetor uang terlebih dahulu,” ungkap Sony dalam pernyataan resminya di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Baca Juga:Laptop dan Kaos Kaki untuk Operasional MBG Disorot, Kepala BGN: Pengadaannya Gak Sebanyak ItuPuluhan Siswa Keracunan MBG, BGN Minta Maaf, Dapur di Pondok Kelapa Jakarta Timur Disetop
Salah satu kasus terbesar terjadi di Jawa Barat. Total kerugian dilaporkan mencapai Rp1,9 miliar dengan sedikitnya 21 korban. Rata-rata, setiap korban mengalami kerugian hingga Rp100 juta.
Tak hanya itu, laporan serupa juga muncul di Lombok Timur dan Barelang yang kini masih dalam proses penyelidikan.
Bahkan di Banten, dua korban dilaporkan mengalami kerugian hingga Rp400 juta akibat modus serupa.
Melihat eskalasi kasus ini, BGN langsung berkoordinasi dengan Satgas MBG Polri dan aparat kepolisian di berbagai wilayah untuk menindaklanjuti laporan masyarakat sekaligus memburu pelakunya. (*)
