Sementara untuk jangka panjang, Amran mendorong pengembangan komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi wilayah Alor, seperti kelapa, kakao, dan jambu mete. Ia menargetkan pengembangan hingga 10 ribu hektare lahan.
Jika satu hektare dikelola satu keluarga, program tersebut berpotensi memberikan sumber penghasilan bagi sekitar 10 ribu keluarga atau sekitar 40 ribu jiwa.
“Ini bukan hanya program pertanian, tapi solusi nyata untuk menekan kemiskinan,” jelasnya.
Baca Juga:Mentan Amran Bongkar Dugaan Penipuan Beras Fortifikasi, Kerugian Capai Rp71 TriliunGudang Beras Penuh, Pengamat Sebut Kinerja Kementan Transparan
Pemerintah juga memastikan bantuan diberikan secara penuh, mulai dari bibit hingga biaya tanam, sehingga masyarakat tidak terbebani modal awal.
Pendampingan oleh penyuluh pertanian pun akan dilakukan hingga tanaman berhasil tumbuh dan produktif.
Dalam kunjungannya, Amran juga mengapresiasi perkembangan tanaman kakao di Alor yang dinilai memiliki prospek besar sebagai sumber ekonomi jangka panjang.
“Kakao, kelapa, dan mete adalah investasi masa depan. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat selama puluhan tahun,” katanya.
Ia menegaskan, kunjungan langsung ke daerah menjadi bagian penting agar program pemerintah benar-benar tepat sasaran dan berdampak nyata.
“Kita tidak bisa hanya bekerja dari Jakarta. Harus melihat langsung kondisi di lapangan, mendengar masyarakat, lalu mengambil keputusan cepat,” pungkasnya, dilansir dari rilis resmi Kementan. (*)
