Pemerintah Gerak: Harga Telur Anjlok, Kementan Minta Naik ke Rp26.500, Dapur MBG Wajib Serap Peternak

Gerak cepat
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menegaskan pemerintah tak tinggal diam melihat kondisi harga telur yang merugikan peternak. Foto: Kementan.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com– Pemerintah mulai bergerak cepat merespons turunnya harga telur ayam di tingkat peternak yang belakangan berada di bawah standar acuan.

Langkah ini dilakukan demi menjaga keberlangsungan usaha peternak sekaligus memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), serta pelaku usaha dan asosiasi peternak langsung menggelar konsolidasi nasional untuk menstabilkan harga telur di pasar.

Baca Juga:Peternak Lokal Wajib Diuntungkan, Program MBG Diminta Serap Telur dari DaerahPerkuat Hulu Peternakan Lewat BUMN, Mentan Amran Targetkan Harga Ayam dan Telur Stabil

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi harga telur yang merugikan peternak.

Ia menyebut, penurunan harga telur saat ini sudah berada di bawah harga acuan pemerintah, sehingga perlu segera dilakukan penyesuaian.

“Harga di tingkat peternak harus kembali mendekati acuan yang telah ditetapkan,” ujarnya dalam rapat koordinasi di Kantor Kementan, Selasa (12/5/2026).

Pemerintah bersama koperasi dan asosiasi peternak pun sepakat mendorong harga telur naik ke kisaran Rp26.500 per kilogram, sesuai harga acuan produsen yang telah ditetapkan.

Instruksi tegas juga datang langsung dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang meminta agar koreksi harga segera dilakukan dalam waktu singkat.

Pemerintah bahkan menargetkan kenaikan harga di tingkat peternak mulai terjadi dalam waktu dekat, dengan pengawasan ketat dari Satgas Pangan dan tim stabilisasi harga.

Di sisi lain, kondisi produksi telur nasional justru tergolong kuat. Pada tahun 2026, produksi diperkirakan mencapai sekitar 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya sekitar 6,4 juta ton.

Baca Juga:Dukung MBG, Danantara Siapkan Rp20 Triliun untuk Peternak Ayam Pedaging dan PetelurJelang Idul Adha 1447 H, Kementan Perketat Pengawasan dan Dorong Pelaporan Data Hewan Kurban

Lonjakan produksi ini dipicu meningkatnya investasi di sektor peternakan ayam petelur, termasuk efek dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong permintaan.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan mengeluarkan aturan tegas terkait pembelian telur di tingkat produsen agar harga tetap terkendali.

Distribusi pun menjadi perhatian utama. Pemerintah berupaya menata peran perantara agar tidak menekan harga di tingkat peternak seperti yang terjadi saat ini.

Selain pengawasan distribusi, dukungan juga diberikan melalui penyaluran jagung pakan serta pemantauan langsung di lapangan.

Masih dilansir dari rilis resmi Kementan, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan program MBG akan menjadi solusi nyata dalam menyerap produksi telur peternak lokal.

0 Komentar