Jakarta, Berita86.com— Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meningkatkan kesiapsiagaan nasional menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi meningkat selama puncak musim kemarau Juli hingga September 2026.
Kondisi ini diperparah oleh pengaruh fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan di berbagai wilayah.
Langkah antisipatif tersebut menjadi fokus dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait.
Baca Juga:Kasus Bobol Ratusan Situs Diungkap Polda Jatim, Hacker asal Demak Raup Rp500 Juta dari Promosi JudolIndonesia Sikat Timor Leste 3-0, Vietnam Jadi Tantangan Berikutnya di Asean Championship 2026
Sebagai tindak lanjut, Polri telah menggelar berbagai upaya masif di lapangan. Tercatat sebanyak 151 apel kesiapsiagaan, 29 rapat siaga, serta 180 kegiatan pengecekan lapangan telah dilakukan.
Selain itu, 2.850 kegiatan sosialisasi kepada masyarakat digencarkan guna meningkatkan kesadaran pencegahan karhutla.
Tak hanya itu, patroli terpadu juga diperkuat dengan total mencapai 168.500 kegiatan, melibatkan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, serta masyarakat setempat.
Dalam mendukung pengawasan, Polri memanfaatkan teknologi modern seperti drone, CCTV, serta command center yang terhubung langsung dengan Kementerian Kehutanan, BNPB, dan Basarnas.
Sistem ini memungkinkan pemantauan titik panas (hotspot) secara real time untuk mempercepat respons penanganan.
Dari sisi kekuatan personel, sebanyak 48.368 anggota Sabhara dan 23.360 personel Brimob disiagakan penuh.
Mereka didukung sistem rayonisasi guna mempercepat mobilisasi pasukan dan peralatan ke lokasi terdampak.
Baca Juga:Mentan Amran Bongkar Dugaan Penipuan Beras Fortifikasi, Kerugian Capai Rp71 TriliunPrabowo Bicara tentang Kunci Negara Maju: Elite Harus Bersatu, Bukan Saling Menjatuhkan
Berdasarkan data terbaru, luas area yang terdampak karhutla mencapai sekitar 107.465 hektare.
Sejumlah wilayah dengan titik panas tertinggi antara lain Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Melalui rilis resmi Mabes Polri yang dikutip pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa keselamatan personel menjadi prioritas utama dalam setiap operasi penanggulangan.
“Arahan Wakapolri sangat jelas, seluruh personel harus dilengkapi perlengkapan memadai seperti baju tahan api, sepatu khusus, penutup kepala, masker, hingga peralatan pemadaman bergerak. Faktor keselamatan tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Polri menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menekan risiko karhutla, sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak yang lebih luas. (*)
