JAKARTA, Berita86.com- Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah cepat dengan memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 27 April 2026.
Dilansir dari rilis resmi Kemensetneg, pertemuan ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional di tengah tekanan geopolitik dunia yang terus berkembang.
Dalam penjelasannya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa kondisi energi dalam negeri masih aman dan terkendali.
Baca Juga:Harga BBM Dipastikan Aman! Bahlil Ungkap Strategi Energi RI di Tengah Gejolak GlobalBBM Tak Naik 1 April 2026, Mensesneg: Jangan Percaya Informasi yang Tak Jelas Sumbernya
Kualitas bahan bakar minyak (BBM), baik jenis solar maupun bensin, bahkan disebut telah melampaui standar minimum yang ditetapkan secara nasional.
Tak hanya itu, pasokan energi juga tetap stabil meskipun terjadi ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk di jalur strategis Selat Hormuz yang kerap memengaruhi distribusi energi global.
Pemerintah memastikan rantai pasok tidak terganggu dan kebutuhan domestik tetap terpenuhi.
Untuk sektor hulu, ketersediaan minyak mentah (crude oil) juga dilaporkan berada dalam kondisi aman.
Stok yang tersedia saat ini berada di atas ambang batas minimum, sehingga mendukung keberlanjutan operasional kilang dalam negeri.
Di sisi lain, masih dari penjelasan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, pemerintah tengah menyiapkan langkah besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah pengembangan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif energi yang lebih mandiri.
Baca Juga:Terbongkar! Praktik “Kencing” BBM Subsidi di Musi Rawas, 11 Orang Jadi TersangkaIni Daftar Kebijakan Baru Berlaku Mulai April 2026: WFH ASN hingga Pembatasan Pembelian BBM
Meski begitu, rencana ini masih dalam tahap pematangan sebelum diimplementasikan secara luas.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah juga terus memperkuat strategi ketahanan energi nasional.
Upaya tersebut meliputi peningkatan lifting minyak dan gas, percepatan implementasi biodiesel seperti B50 guna menekan impor solar, serta pengembangan bahan bakar campuran bioetanol E20 untuk bensin.
Langkah-langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi potensi krisis energi global, sekaligus mempertegas komitmen menuju kemandirian energi nasional. (*)
