Jakarta, Berita86.com- Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan bahwa empat anjing pemburu yang terlibat dalam insiden meninggalnya seorang anak berinisial MAS (9) di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dinyatakan tidak terinfeksi rabies.
Kepastian tersebut diperoleh setelah dilakukan pengujian laboratorium oleh Balai Veteriner Subang terhadap sampel yang diterima pascakejadian pada 7 Juni 2026.
Dalam rilis resminya ,Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa menegaskan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan tidak adanya virus rabies pada keempat hewan tersebut.
Baca Juga:Ledakan Kebutuhan Vaksin Hewan: Kementan Gandeng Investor Bangun Pabrik Modern di SulselKementan Ungkap Strategi Rahasia di Forum Dunia: Kesehatan Hewan Jadi Kunci Kuatnya Ketahanan Pangan RI
Ia menyebut pemeriksaan dilakukan menggunakan metode standar internasional yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH).
“Hasilnya sudah jelas, seluruh sampel dari empat anjing tersebut dinyatakan negatif rabies. Artinya, tidak ada potensi penularan virus rabies dari kasus ini,” ujar Hendra dalam keterangannya di Jakarta, dilansir pada Senin, 15 Juni 2026.
Senada, Kepala Balai Veteriner Subang, Putut Eko Wibowo, menjelaskan bahwa pengujian dilakukan secara cepat begitu sampel diterima guna memberikan kepastian ilmiah sekaligus mendukung proses investigasi yang sedang berlangsung.
Menurutnya, metode direct Fluorescent Antibody Test (dFAT) yang digunakan merupakan standar emas (gold standard) dalam diagnosis rabies karena memiliki tingkat akurasi tinggi.
“Seluruh prosedur pengujian telah dilakukan sesuai standar laboratorium. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan indikasi virus rabies pada semua sampel yang diuji,” jelas Putut.
Ia menambahkan, laboratorium veteriner pemerintah terus berkomitmen memberikan layanan pengujian yang cepat dan akurat untuk mendukung pengendalian penyakit hewan menular, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan hasil tersebut, Kementan menegaskan tidak ada risiko penularan rabies kepada manusia maupun hewan lain di sekitar lokasi kejadian. Meski demikian, masyarakat tetap diminta untuk tidak lengah.
Baca Juga:Turun Langsung, Bupati Bogor Tangkap 220 Kg Ikan Sapu-Sapu, Warga Diajak Selamatkan SungaiKlarifikasi Tegas Bupati Bogor Soal Tambang, Tegaskan Tak Ada Konflik dengan KDM
Hendra menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi pengingat penting bagi pemilik hewan untuk meningkatkan pengawasan, terutama saat hewan dibawa ke ruang publik atau digunakan dalam aktivitas berburu.
Selain itu, Kementan terus memperkuat upaya pencegahan rabies melalui peningkatan surveilans, vaksinasi hewan penular rabies, serta optimalisasi layanan laboratorium di berbagai daerah.
