Jakarta, Berita86.com- Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat struktur ekonomi nasional untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam konferensi pers terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026, Airlangga menjelaskan bahwa arah kebijakan ekonomi difokuskan pada stabilitas sekaligus akselerasi transformasi ekonomi.
Menurutnya, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,8% hingga 6,5% pada tahun 2027.
Untuk mendukung hal tersebut, pendapatan negara diproyeksikan berada di rentang 11,82%–12,4% terhadap PDB, sementara belanja negara dirancang sebesar 13,62%–14,8% terhadap PDB, dengan defisit tetap terkendali di level 1,8%–2,4%.
Baca Juga:Airlangga Hartarto Dampingi Presiden di KTT ASEAN, Ini Pesan Penting untuk DuniaHarga Pertalite dan Solar Tak Naik hingga Akhir 2026, Tapi Tiket Pesawat Naik, Ini Penjelasan Airlangga
Selain itu, pemerintah menjaga stabilitas makro melalui target inflasi yang rendah di kisaran 1,5%–3,5% serta nilai tukar rupiah yang diperkirakan berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Airlangga menambahkan, kebijakan ekonomi 2027 akan difokuskan pada sejumlah program prioritas nasional, seperti penguatan ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi.
Tak kalah penting, pemerintah juga terus mendorong pembangunan infrastruktur, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta mempercepat pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan.
Di sisi eksternal, pemerintah memperkuat pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sektor sumber daya alam melalui penyempurnaan regulasi yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan likuiditas domestik, menjaga stabilitas pasar keuangan, serta mendukung pembiayaan pembangunan.
Lebih lanjut, perbaikan tata kelola ekspor komoditas strategis seperti batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy juga terus dilakukan guna meningkatkan transparansi, mencegah praktik ilegal, serta mengoptimalkan penerimaan negara.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang hati-hati, penguatan sektor riil, dan optimalisasi sumber daya nasional, Airlangga optimistis ekonomi Indonesia akan semakin tangguh, kompetitif, dan mampu tumbuh secara inklusif serta berkelanjutan pada tahun 2027. (*)
