Jakarta, Berita86.com – Di saat dunia mulai dihantui ancaman krisis pangan global, Indonesia justru menunjukkan arah berbeda, yakni semakin kuat, bahkan siap mengambil peran sebagai pemasok pangan internasional.
Peringatan datang dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Dalam pernyataan terbarunya, FAO menyoroti meningkatnya risiko gangguan pangan global akibat konflik geopolitik dan potensi terhambatnya jalur distribusi utama dunia.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menegaskan bahwa ancaman seperti kemungkinan penutupan Selat Hormuz bukan sekadar gangguan biasa.
Baca Juga:Kementan Bangun Lab Vaksin Modern, Langkah Besar Dongkrak Ketahanan Pangan NasionalBibit Ternak Jadi Kunci Besar, Kementan Genjot Standar Demi Kedaulatan Pangan
Dampaknya bisa meluas menjadi krisis besar yang mengguncang sistem pangan global.
Ia mengingatkan bahwa setiap negara kini harus mulai memperkuat ketahanan pangan domestik agar mampu bertahan dari tekanan global yang makin kompleks.
Indonesia Tak Goyah, Produksi Justru Surplus
Berbeda dari kekhawatiran global, Indonesia berada dalam posisi relatif aman.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, mulai dari peningkatan produksi hingga penguatan cadangan pangan nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian nasional siap menghadapi berbagai skenario terburuk, termasuk dampak perubahan iklim seperti El Nino dan La Nina.
Produksi beras nasional bahkan tercatat melampaui kebutuhan. Setiap bulan, produksi berada di kisaran 2,6 hingga 5,7 juta ton, sementara konsumsi nasional hanya sekitar 2,5 juta ton. Artinya, Indonesia tidak hanya cukup — tapi surplus.
Stok Tertinggi Sepanjang Sejarah
Kekuatan Indonesia juga terlihat dari cadangan beras pemerintah yang kini mencapai lebih dari 5,3 juta ton—angka tertinggi dalam sejarah modern.
Masih dilansir dari rilis resmi Kementan, Senin, 26 Mei 2026, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut stok yang melimpah ini menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global.
Baca Juga:Dolar Menguat Tak Goyahkan Desa! Mentan Amran Ungkap Pertanian Jadi Tameng Ekonomi RITerima Laporan Mahasiswa, Mentan Amran Seketika Telepon dan Tindak Lanjuti Dugaan Pelanggaran
Dengan kondisi tersebut, Indonesia mulai melangkah lebih jauh: tidak hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi.
Langkah konkret sudah dimulai. Indonesia mengirim beras premium ke Arab Saudi untuk kebutuhan jemaah haji, sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina.
Ke depan, pemerintah menargetkan pasar yang lebih luas. Bukan hanya jemaah Indonesia, tetapi juga masyarakat global bisa mengonsumsi beras produksi Tanah Air.
