Harga Ayam Hidup Anjlok di Bawah Rp15 Ribu, Kementan Turun Tangan Selamatkan Peternak Rakyat

Sektor peternakan
Ilustrasi ayam hidup. Foto: Ditjen PKH Kementan.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com- Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mengambil langkah serius menyikapi turunnya harga ayam hidup (live bird) yang merugikan peternak, terutama skala kecil.

Di sejumlah daerah, harga bahkan dilaporkan jatuh jauh di bawah standar yang telah ditetapkan pemerintah.

Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan mengintensifkan koordinasi dengan berbagai pelaku industri, termasuk Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) serta pengusaha rumah potong hewan unggas (RPHU).

Baca Juga:Gas Hilirisasi Ayam! Kementan dan Pemkot Bandar Lampung Siap Bangun RPHU Juli 2026Harga Ayam Sempat Jatuh, Kini Dipatok Rp19.500 Per Kg, Pemerintah dan Peternak Sepakat

Fokus utama langkah ini adalah menjaga kestabilan harga sekaligus memastikan usaha peternak rakyat tetap bertahan.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan, I Ketut Wirata, mengungkapkan bahwa harga acuan pemerintah saat ini berada di angka Rp19.500 per kilogram.

Namun di lapangan, harga jual ayam hidup masih ditemukan jauh di bawah angka tersebut.

“Di beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, harga live bird bahkan menyentuh Rp15 ribu. Ini kondisi yang sangat memberatkan peternak mandiri,” ujarnya dalam rapat koordinasi, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, tekanan harga ini paling dirasakan oleh peternak kecil yang tidak memiliki kekuatan modal besar. Jika kondisi terus berlanjut, risiko gulung tikar semakin besar.

Sebagai langkah pengendalian, pemerintah meminta seluruh pelaku usaha tidak melakukan pembelian ayam di bawah harga acuan.

Peran rumah potong unggas dinilai sangat strategis dalam menjaga keseimbangan pasar karena menjadi ujung tombak penyerapan produksi dari peternak.

Baca Juga:Kementan Kawal Proyek Farm Ayam Raksasa di Malang, Targetkan Industri Unggas Lebih KuatGenerasi Muda Didorong Masuk Hilirisasi Ayam

Tak hanya itu, Ditjen PKH juga memutuskan untuk menunda sementara sejumlah rekomendasi usaha di sektor perunggasan hingga harga kembali stabil sesuai ketentuan.

Masih dilansir dari rilis resmi Kementan, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Hary Suhada, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga harga tetap berpihak pada peternak.

“Kami berharap semua pihak bisa kompak. Jangan sampai ada yang justru memperparah kondisi dengan menekan harga,” katanya.

Di sisi lain, pelaku industri juga mengakui tengah menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan pasar dan tingginya pasokan ayam hidup.

Ketua ARPHUIN, Sigit Pambudi, menyebut pihaknya tetap berupaya maksimal menyerap produksi peternak agar keseimbangan pasar tetap terjaga.

0 Komentar