Kata Pakar: Kerbau Australia Jadi Sumber Protein Alternatif Global

Alternatif
Kerbau Australia dinilai memiliki peluang besar untuk menarik perhatian pasar global. Foto: Kementan.
0 Komentar

Jakarta, Berita86.com – Komoditas kerbau dari Australia kini dinilai memiliki peluang besar untuk menarik perhatian pasar global.

Selain memiliki nilai historis yang unik, kerbau Australia juga menawarkan manfaat ekonomi dan gizi yang semakin relevan di tengah kebutuhan protein dunia.

Sejarah keberadaan kerbau di Australia bermula sekitar dua abad lalu, saat hewan tersebut dibawa oleh kolonial Inggris dari wilayah Indonesia, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga:Peternakan Jadi Kunci Kemandirian Pangan, Kementan Perkuat Hilirisasi dan Kesehatan HewanBGN Tegaskan Dapur Program MBG Harus Jauh dari TPA dan Kandang Hewan

Awalnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan di wilayah utara Australia, kerbau kemudian dilepas ke alam liar setelah pemukiman di Semenanjung Cobourg ditinggalkan pada 1849. Sejak saat itu, populasinya berkembang secara alami di wilayah Northern Territory.

Hingga kini, kerbau-kerbau tersebut hidup bebas dengan mengandalkan pakan alami berupa rumput liar. Kondisi lingkungan yang mendukung membuat populasinya tumbuh signifikan dan menjadi salah satu sumber daya ternak yang melimpah.

Dilansir dari rilis resmi Ditjen PKH Kementan, Senin, 4 Mei 2026, praktisi kesehatan reproduksi ternak, Kurnia Achyadi, menyebutkan bahwa sistem pemeliharaan alami justru menjadi salah satu faktor keberhasilan populasi kerbau di Australia.

Menurutnya, kualitas nutrisi pakan di wilayah dengan iklim tertentu turut memengaruhi perkembangan ternak.

Meski sempat mengalami penurunan akibat wabah penyakit di masa lalu, populasi kerbau kini kembali meningkat berkat sistem pemeliharaan yang minim intervensi.

Perubahan juga terjadi dalam pola pengelolaan. Jika sebelumnya kerbau banyak diburu, kini pendekatan yang digunakan lebih terstruktur melalui sistem penangkapan dan penggemukan.

Model ini berkembang menjadi industri yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari peternak, pengelola feedlot, hingga pelaku usaha rumah potong hewan.

Senada diungkapkan pemerhati peternakan sekaligus akademisi, Abdullah Akhyar Nasution.

Baca Juga:Lampung Disiapkan Jadi Kunci Pangan Nasional, Kementan Ungkap Potensi BesarnyaKementan Dorong Investasi Susu di Jateng, Peluang Peternak Makin Luas

Ia menilai bahwa sistem pengelolaan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan potensi kerbau secara lebih optimal.

Dari sisi kualitas, daging kerbau dikenal memiliki kandungan protein tinggi dengan kadar lemak yang relatif rendah.

Karakteristik ini menjadikannya alternatif menarik bagi konsumen yang mencari sumber protein sehat dan terjangkau.

Selain itu, efisiensi dalam pemanfaatan pakan serta kemampuan adaptasi yang tinggi membuat kerbau menjadi komoditas yang ekonomis untuk dikembangkan.

0 Komentar