Inovasi Mahasiswa Telkom: Alat Cek Napas Murah yang Siap Dipatenkan

Inovasi
Bermula dari tugas kuliah, dua mahasiswa Teknik Elektro Telkom University berhasil menciptakan inovasi teknologi kesehatan berupa alat pemantau pola pernapasan yang ekonomis dan potensial dikembangkan lebih luas. Foto: DJKI.
0 Komentar

Bandung, Berita86.com– Berawal dari tugas perkuliahan, dua mahasiswa Teknik Elektro Telkom University berhasil menciptakan inovasi teknologi kesehatan berupa alat pemantau pola pernapasan yang ekonomis dan potensial dikembangkan lebih luas.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Imanuel Putra Timothy Tambun dan Nurfadiyah Putri Bumi. Mereka suksws mengembangkan prototipe perangkat berbasis antena yang mampu membaca ritme pernapasan manusia.

Saat ini, inovasi tersebut tengah memasuki tahap konsultasi teknis untuk pengajuan paten sederhana.

Baca Juga:Hari KI 2026: Industri Olahraga Melejit, DJKI Buka Peluang Ekonomi dari Hak Kekayaan IntelektualFestival Sagu Papua 2026 Siap Digelar, Strategi Baru DJKI Lindungi Produk Lokal dan Dongkrak Nilai Ekonomi

Perangkat ini dirancang untuk membantu pengguna memantau kondisi pernapasan secara mandiri. Sistem bekerja dengan memanfaatkan antena sebagai pemancar dan penerima sinyal untuk mendeteksi pola napas.

Dari data yang ditangkap, pengguna dapat mengetahui apakah pola pernapasan berada dalam kondisi normal atau menunjukkan indikasi gangguan yang perlu diperiksa lebih lanjut.

“Kami melihat banyak masalah kesehatan terkait kualitas udara dan gangguan pernapasan. Dari tugas membuat wearable antenna, kami mencoba mengembangkannya agar lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Imanuel di Bandung, Senin (11/5/2026).

Inovasi Murah dari Bahan Tak Biasa

Salah satu keunikan alat ini terletak pada bahan yang digunakan. Alih-alih memakai komponen mahal, keduanya memanfaatkan kain denim dan perca untuk menciptakan perangkat wearable yang lebih terjangkau.

Pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi tidak selalu harus mahal. Bahkan, material yang identik dengan dunia fesyen bisa diubah menjadi perangkat yang mampu membaca sinyal biologis tubuh manusia.

Meski menjanjikan, Nurfadiyah menjelaskan bahwa alat tersebut masih dalam tahap prototipe laboratorium dan membutuhkan penyempurnaan lebih lanjut.

“Kami masih terus melakukan penelitian agar alat ini bisa lebih optimal. Saat ini memang masih tahap awal,” jelasnya.

Dilirik DJKI, Dinilai Punya Kebaruan

Baca Juga:DJKI Turun Tangan, Merek Sosis Viral Indomaret Kini Punya Kekuatan HukumDJKI Dorong Merek UMKM Jadi Agunan Tambahan KUR

Dalam proses konsultasi, Pemeriksa Paten Madya dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Asfaroni, menilai inovasi tersebut memiliki nilai kebaruan yang menarik.

Ia juga mengapresiasi langkah mahasiswa yang mulai terlibat dalam ekosistem paten sejak dini.

“Invensinya menarik dan sejauh ini saya belum menemukan yang serupa. Ini langkah yang sangat baik,” ungkapnya.

0 Komentar