Cirebon, Berita86.com – Pemerintah bergerak cepat merespons anjloknya harga ayam hidup (livebird) di tingkat peternak.
Kementerian Pertanian (Kementan) langsung menginisiasi langkah konkret bersama pelaku usaha perunggasan untuk memulihkan harga yang sempat tertekan akibat turunnya permintaan pasar.
Upaya ini dimulai melalui rapat koordinasi strategis yang digelar di Cirebon pada 2 Juli 2026.
Baca Juga:Harga Ayam Hidup Anjlok, Pemerintah Targetkan Tembus Rp19.500 dalam 2 PekanKementan Turun Tangan: Harga Ayam Diselamatkan Lewat Penyerapan Besar-besaran
Pertemuan tersebut melibatkan perusahaan perunggasan besar dan peternak mandiri dari wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) guna menyatukan langkah dalam mengendalikan pasokan dan mempercepat kenaikan harga di tingkat peternak.
Dilansir dari rilis resmi Kementan, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada menegaskan bahwa kunci stabilitas industri perunggasan terletak pada komitmen bersama seluruh pelaku usaha.
Ia menekankan, keseimbangan antara produksi dan pasar harus dijaga secara konsisten agar harga ayam kembali stabil dan menguntungkan peternak.
Dalam forum tersebut, disepakati sejumlah strategi penting, mulai dari pengaturan jadwal panen agar tidak terjadi penumpukan pasokan, pengendalian distribusi DOC (Day Old Chick), penghentian praktik perang harga, hingga peningkatan transparansi data stok ayam.
Kesepakatan itu diperkuat dengan penandatanganan komitmen bersama. Targetnya, harga ayam hidup di Jawa Barat bisa naik bertahap hingga mencapai Rp19.500 per kilogram pada 15 Juli 2026, sebelum menuju harga acuan pemerintah.
Dukungan juga datang dari pelaku industri. Perwakilan perusahaan perunggasan menyatakan siap menjalankan kesepakatan dan menjaga stabilitas harga sesuai target yang telah ditentukan.
Namun, kondisi di lapangan masih menunjukkan tantangan. Dari hasil pemantauan di sejumlah peternakan di Kabupaten Bogor pada 3 Juli 2026, harga ayam hidup masih berada di kisaran Rp13.500 per kilogram—angka yang dinilai belum memberikan keuntungan layak bagi peternak.
Baca Juga:Basuki Dukung Hilirisasi Ayam, Pasokan Protein di IKN dan Sekitarnya DiperkuatGas Hilirisasi Ayam! Kementan dan Pemkot Bandar Lampung Siap Bangun RPHU Juli 2026
Di salah satu peternakan di Ciampea, ayam dengan bobot sekitar 1,2 kilogram dijual di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram.
Sementara di wilayah Sukaraja, ayam berbobot lebih besar justru masih dihargai antara Rp13.500 hingga Rp14.500 per kilogram.
Selain fokus pada harga, pemerintah juga mendorong penguatan sektor hilir. Peternak dengan populasi besar didorong untuk mulai membangun fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) guna meningkatkan efisiensi, memperluas pasar, serta menciptakan nilai tambah.
